Headlines News :

Tahukah Anda, Ternyata Meditasi Dapat Meningkatkan Kreativitas?

Talinews.com, Amerika - Seringkali kali kita mendengar istilah "kreativ atau kreativitas". Namun apa sebenarnya kreativitas tersebut.? Begitu banyak teori yang berusaha untuk memberikan definisi tentang hal ini namun dalam sudut pandang ilmu pengetahuan kreativitas sering kali disebut juga sebagai daya cipta (creative thinking), yaitu kemampuan otak muntuk menciptakan susunan-susunan pikiran baru (array) yang kemudian diimplemantasikan dalam tindakan yang baru pula (tercipta hal yang berbeda dari sebelumnya).

Ilustrasi: Teknik meditasi tertentu ternyata dapat meningkatkan pikiran-pikiran yang kreativ (Gambar: Google)
Beberapa orang yang berpikiran kreativ biasanya sering kali menciptakan hal-hal baru dalam kehidupan mereka dan cenderung hal ini menjadikan mereka memiliki nilai lebih dibanding yang lain. Tentu kreativitas yang dimaksud disini adalah dalam konteks yang positif, karena bukan tidak mungkin kreativitas juga dapat menciptakan hal-hal yang tidak diinginkan.

Beberapa teori menjelaskan bahwa "kreativitas" ternyata telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan yang ada pada otak yang menjadikan manusia mampu melewati proses evolusi yang sudah berlangsung sangat lama sampai hari ini. Perubahan dari manusia primitif menjadi manusia modern tidak lepas dari kemampuan manusia itu sendiri berpikir secara kreativ dalam mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi.

Di jaman modern ini hal yang berkaitan dengan kreativitas ini masih menjadi objek penelitian oleh beberapa ahli. Penelitian yang dilakukan beberapa ilmuwan di Universitas Leiden yang dipimpin seorang ahli psikologi kognitif, Lorenzo Colzato, berusaha membuka tabir baru tentang keterkaitan antara meditasi dan pengaruhnya terhadap kreativitas.

Dari penelitian yang dilakukan Colzato, dapat disimpulkan ternyata teknik meditasi tertentu ternyata dapat meningkatkan pikiran-pikiran yang kreativ (creative thinking). Hasil studi ini mengindikasikan dengan jelas bahwa keuntungan lain dari berbagai tipe meditasi tertentu ternyata tidak hanya sekedar untuk menciptakan relaksasi yang sederhana. Bahkan lebih dari itu, ternyata meditasi dapat memiliki pengaruh jangka panjang pada kognisi manusia, termasuk bagaimana kita berpikir dan bagaimana kita mengalami peristiwa.

Dua bahan peramu kreativitas

Studi yang dilakukan Colzato dan beberapa ilmuwan lainnya adalah  investigasi terhadap beberapa teknik-teknik meditativ yang dapat mempengaruhi dua "bahan" kreativitas manusia; yaitu berpikir secara divergen (Divergent thinking) dan konvergen (Convergent thinking).

  1. Divergent thinking; berpikir secara divergen (secara berbeda/acak) akan sangat memungkinkan ide-ide baru akan tercipta dari pikiran seseorang. Studi yang melibatkan beberapa sukarelawan ini dilakukan oleh Colzato dengan menggunakan metode Alternate Uses Task, dimana setiap peserta diijinkan berpikir secara bebas untuk menggunakan objek tertentu, seperti sebuah pena. Dengan kata lain, peserta dapat menggunakan pena tersebut untuk apa saja, atau pena tersebut dapat berfungsi sebanyak mungkin sesuai dengan apa yang mereka pikirkan.
  2. Convergent thinking; di sisi lain, adalah proses dimana satu solusi yang mungkin dihasilkan dalam rangka memecahkan masalah tertentu. Metode ini diukur dengan menggunakan metode Remote Associates Task, di mana peserta disajikan tiga kata yang tidak saling berhubungan seperti 'waktu', 'rambut' dan 'trayek'. Peserta tersebut kemudian diminta untuk mengidentifikasi link yang sama: dalam hal ini, 'panjang'.

Analisis teknik meditasi

Colzato menggunakan tugas-tugas kreativ untuk mengukur kreativitas berpikir konvergen dan divergen dan  menilai teknik-teknik meditasi yang mana yang paling mempengaruhi kegiatan kreatif. Teknik meditasi yang dianalisa adalah Pemantauan Terbuka (Open Monitoring) dan meditasi dengan Perhatian Terfokus (Focused Attention meditation).

Dalam meditasi Pemantauan terbuka setiap orang menerima semua pikiran dan sensasi yang dialami tanpa memfokuskan perhatian pada setiap konsep tertentu atau objek. Sedangkan dalam meditasi Perhatian Terfokus, setiap individu berfokus pada pikiran tertentu atau objek.

Berbagai jenis meditasi memiliki efek yang berbeda

Temuan ini menunjukkan bahwa tidak semua bentuk meditasi memiliki efek yang sama pada kreativitas. Dengan meditasi Pemantauan Terbuka peserta terlihat lebih baik dalam menggunakan pikirannya secara divergen, dan menghasilkan lebih banyak ide baru dari sebelumnya, tetapi pada meditasi Perhatian Terfokus  menghasilkan hasil yang berbeda. Selain itu meditasi dengan Perhatian Terfokus juga tidak memberi pengaruh signifikan pada pola pikir konvergen yang mengarah kepada penyelesaian masalah. (ahs)

04.25 | Posted in , , , | Read More »

Please share :

Berteman Membuat Anda Sehat, Lho!

Ilustrasi: Diketahui bahwa orang yang memiliki banyak teman dan pandai dalam berinteraksi sosial, memiliki dampak positif terhadap kesehatan tubuhnya. (Gambar: Huffingtonpost)
Talinews.com, Amerika Serikat – Mau sehat? Coba lihat berapa banyak teman yang Anda miliki. Bukan hanya sekadar teman dalam deretan angka, tetapi teman yang sering kongkow bareng, berdiskusi, dan berinteraksi secara langsung dengan Anda.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli di Amerika Serikat, diketahui bahwa orang yang memiliki banyak teman dan pandai dalam berinteraksi sosial, memiliki dampak positif terhadap kesehatan tubuhnya.

Seperti hasil studi 'The Pain of Exclusion' yang dilakukan oleh Kipling D. Williams yang diterbitkan di jurnal Scientific American Mind edisi Januari/Februari 2012. Studi ini menyatakan bahwa saat terjadi gangguan pada hubungan interaksi sosial, seperti penolakan akibat pertentangan di lingkungan sosial, biasanya timbul ekspresi 'sakit hati'.

Ekspresi ini menyebabkan adanya cidera fisik yang terbagi dalam dua komponen, perasaan emosional yang tidak menyenangkan dan perasaan sensorik yang tertekan. Semua komponen itu berhubungan dengan struktur yang berbeda di otak, yang akhirnya akan menyebabkan timbulnya rasa nyeri.

Struktur otak tertentu yang berhubungan dengan 'nyeri sosial' ini adalah anterior cingulate cortex, yakni struktur sama yang terlibat dalam komponen emosional dan rasa sakit fisik. Hubungan antara rasa sakit fisik dan sosial mencerminkan ikatan antara koneksi sosial dan proses fisiologis tubuh.

Dalam satu studi baru yang dipublikasikan di awal tahun lalu, peneliti melihat hubungan antara manfaat kesehatan dan hubungan sosial, mendapatkan bukti bahwa hubungan sosial melalui kontak yang meningkat dengan teman atau keluarga, berkaitan pada penurunan risiko kematian wanita muda penderita kanker payudara.

Penelitian lain yang mendukung hal ini adalah melalui jalur genetika. Hasilnya, bahan biokimia yang membawa manfaat dalam tubuh terhadap dukungan sosial yang baik adalah oksitosin neuropeptida.

Selain itu, oksitosin diketahui berperan sangat penting dalam pengaturan perilaku sosial, keterikatan dalam hubungan pertemanan, dan berpengaruh terhadap seluruh evolusi mamalia. Oksitosin juga bisa mengurangi respon stres dan meningkatkan perilaku prososial.

Kesimpulannya adalah, dengan berinteraksi sosial yang baik, komponen genetik dan saraf dalam tubuh Anda akan berkerja. Sedangkan, orang yang sangat individual dan sulit untuk menjalin komunikasi atau berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, akan memunculkan banyak kecemasan dan merasa sangat terancam dari lingkungan luar.

Jadi, sepertinya tidak ada salahnya jika Anda mencoba untuk meluangkan waktu sejenak untuk berkomunikasi dengan teman dan keluarga, atau menghabiskan waktu bersama dengan berlibur dan sekadar bersantai di satu café pinggir jalan sembari cuci mata. (art)

06.57 | Posted in , , | Read More »

Please share :

Tahukah Anda, Perasaan Positif Dapat Mungurangi Resiko Penyakit Jantung?

Talinews.com, Amerika Serikat - Tidak dapat dipungkiri bahwa masalah kesehatan tidak melulu dipengaruhi oleh faktor eksternal. Itulah mengapa tokoh Buddist, Dalai Lama, pernah berkata bahwa faktor internal seperti "pikiran" manusia juga dapat menjadi sumber segala penyakit. Dalam pengertian sederhana, bahwa setiap orang seharusnya mampu untuk mengendalikan pikiran mereka, mengarahkan dan mengembangkannya pada pikiran-pikiran positif. Hal ini bertujuan agar kita terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan yang dapat juga mengancam masalah kesehatan psikologis.

Ilustrasi: Para ilmuwan menemukan bahwa keadaan psikologis positif yang muncul dapat mengurangi risiko serangan jantung, stroke dan ancaman kardiovaskular lainnya. (Foto: Google)
Tidak hanya itu, bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki karakteristik yang sangat kompleks, selain pikiran, manusia juga dianugrahi dengan "perasaan" atau biasa disebut emosi. Perasaaan adalah sesuatu yang sangat rentan terhadap ancaman ketidaknyamanan. Jika seseorang tidak pernah melatih diri untuk mengendalikan hal ini, maka bukan tidak mungkin ia akan mendapati perasaan-perasaan negatif dalam kesehariannya.

Tidak mengherankan jika dalam kehidupan masyarakat modern saat ini banyak orang yang secara serius menggeluti latihan spiritual sekuler, seperti mengikuti pelatihan meditasi, yoga dan lain-lain. Dengan berlatih meditasi dan yoga, mereka berharap dapat merasakan manfaat positif dalam usaha mengendalikan pikiran dan menciptakan perasaan-perasaan posisitf dalam kehidupan sehari-hari.

Perlu diketahui bahwa beberapa dekade terakhir banyak penelitian yang telah dilakukan dalam menyelidiki keterkaitan antara keadaan psikologis seseorang yang dapat mengakibatkan ancaman terhadap kesehatan dirinya. Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perasaan negatif seperti depresi, kemarahan, kecemasan, kebencian atau rasa permusuhan, ternyata dapat menjadi ancaman bagi kesehatan jantung.

Sedikit sekali diketahui bagaimana karakteristik psikologis positif dapat mempengaruhi kesehatan jantung. Namun baru-baru ini peneliti di Havard School of Public Health (HSPH) menemukan bahwa keadaan psikologis yang positif mampu mengurangi resiko serangan jantung, stroke atau ancaman kardiovaskular lainnya.

Asosiasi Jantung Amerika (AHA) melaporkan lebih dari 2.200 orang Amerika meninggal akibat penyakit kardiovaskular (CVD) setiap harinya, rata-rata satu kematian setiap 39 detik dan penyakit stroke menyumbang sekitar satu dari setiap 18 kematian AS.

"Kami menemukan bahwa faktor-faktor seperti optimisme, kepuasan hidup, dan kebahagiaan sangat berhubungan dengan penurunan risiko CVD terlepas dari faktor-faktor seperti usia seseorang, status sosial ekonomi, perokok atau bukan, bahkan berat badan, ", demikian kata Julia Boehm, peneliti HSPH di Department of Society, Human Development, and Health. "Sebagai contoh, individu-individu yang paling optimis memiliki resiko berkurangnya resiko CDV sekitar 50% dibandingkan dengan rekan-rekan mereka kurang optimis," katanya.

Dalam review lebih dari 200 penelitian yang diterbitkan dalam dua database ilmiah utama, Boehm dan penulis senior Laura Kubzansky, Professor of Society, Human Development, and health di HSPH, ditemukan bahwa ada aset psikologis, seperti optimisme dan emosi positif, yang mampu memberi perlindungan terhadap penyakit kardiovaskular. Juga tampak bahwa faktor-faktor ini memperlambat perkembangan penyakit.

Untuk lebih memahami keterkaitan antara keadaan psikologis yang baik dan dan pengaruhnya terhadap ancaman CVD, Boehm dan Kubzansky juga meneliti hubungan perilaku hidup sehat dengan kesehatan kardiovaskular dan indikator biologis. Mereka menemukan bahwa individu dengan perasaan positif biasanya menjalani perilaku hidup sehat seperti berolahraga, makan makanan terartur dan seimbang, dan tidur cukup. Hal ini akan menciptakan manfaat postif lainnya seperti fungsi biologis yang lebih baik, misalnya dapat menurunkan tekanan darah, lipid yang sehat, dan menjadikan berat tubuh normal.

Jika penelitian dimasa yang akan datang terus menunjukkan bahwa tingkat kepuasan, optimisme dan kebahagiaan dapat mempengaruhi kesehatan jantung, maka ini memiliki implikasi yang kuat untuk merancang strategi pencegahan dan intervensi.

"Temuan ini menunjukkan bahwa penekanan pada memperkuat kesehatan psikologis seseorang bukan hanya mengurangi keadaan psikologis yang negatif, namun dapat pula meningkatkan kesehatan jantung," kata Kuzbansky. (ahs)

16.17 | Posted in , , , , | Read More »

Please share :

Anda Stres? Coba Cara Ini

Ilustrasi: Sebagai manusia biasa, sangat wajar bila selalu menghadapi permasalahan dalam hidup. Banyak hal yang tidak sesuai denga apa yang diharapkan bukan berarti akhir dunia.(Gambar: Google)
Talinews.com – Rutinitas yang sama setiap hari, pekerjaan yang menumpuk, kurang beristirahat, hubungan interaksi sosial yang kurang baik, tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup yang semakin tinggi, masalah pribadi, dan emosional, kerap menjadi faktor utama timbulnya stres.

Jiwa menjadi tertekan, terlebih bila Anda merasa sulit mengeluarkan uneg-uneg yang mengganjal di pikiran. Namun, apakah Anda harus kalah menghadapi semua masalah hidup itu?

Sebagai manusia biasa, sangat wajar bila selalu menghadapi permasalahan dalam hidup. Banyak hal yang tidak sesuai denga apa yang diharapkan bukan berarti akhir dunia. Anda haruslah bijak mengatasi itu semua.

Bermodalkan pikiran dan perasaan yang melekat di jiwa, cobalah untuk mengatasi stres Anda. Bagaimana caranya? Berikut Talinews bagikan tipsnya.

Tulis apa yang Anda rasakan….

Padatnya pekerjaan dan rutinitas yang sama setiap harinya, bisa mengakibatkan Anda menjadi jenuh. Jika sudah berada di titik jenuh tertinggi, coba tinggalkan sejenak pekerjaan dan rutinitas yang mengikat Anda. Lalu, tarik nafas yang dalam sesaat, dan hembuskan dengan kuat.

Usahakan, jangan pikirkan pekerjaan dan rutinitas itu dalam beberapa menit. Coba alihkan dengan melakukan sesuatu yang sesuai dengan hobi Anda dan sangat mungkin dilakukan saat itu juga. Seperti menulis puisi atau jurnal harian, dan ungkapkan semua rasa lelah atau kesal Anda dalam lembaran kertas.

Meski sulit mau menuliskan apa, cobalah untuk menuangkan semua isi pikiran yang terlintas saat itu, hingga untaian kata akan mengalir deras dengan sendirinya. Dengan menuliskan apa yang dirasa, Anda sudah mencoba 'berkomunikasi' dan berbagi rasa dengan 'teman' berupa lembaran kertas putih.

Meditasi….

Zaman dahulu kala, meditasi sangat berguna dalam proses penyembuhan jiwa dan sebagai bentuk proses spiritual, untuk menahan diri dari sifat keduniawian. Melakukan meditasi bisa bermanfaat untuk meredam emosi, dan juga menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak baik.

Tidaklah sulit dalam melakukan meditasi. Anda cuma perlu ruang privasi bagi diri sendiri untuk duduk bersila dengan tenang. Setelah itu, pejamkan mata Anda. Lalu, bernafaslah seperti biasa hingga akan teratur dengan sendirinya.

Rasakan keadaan sekeliling dalam keheningan Anda, dan anggaplah semua tekanan jiwa Anda terbawa semua bersama udara yang dihembuskan. Meditasi ini akan membuat Anda menjadi rileks dan segar kembali.

Berkomunikasi dengan orang terdekat yang dipercaya….

Komunikasi merupakan cara jitu untuk menghilangkan semua beban. Dengan berkomunikasi, apa yang menjadi beban pikiran bisa dikeluarkan semua. Karena itu, cobalah untuk berkomunikasi dengan orang terdekat yang Anda percaya.

Bila orang itu jauh dari Anda, cobalah untuk menelepon. Ceritakan semua beban pikiran Anda hingga merasa lega karena ada teman berbagi. Setelah itu, lanjutkan dengan berbasa-basi, bergosip, atau membicarakan hal yang lucu dan seru.

Dengarkan musik….


Musik bisa menjadi pengobat jiwa. Namun, hindari musik dengan irama dan lirik yang sedih bila Anda sedang tertekan. Cobalah mulai membuat list lagu yang berirama ceria dan lirik yang jenaka. Lebih baik lagi jika lagu itu merupakan kesukaan Anda.

Walaupun suara Anda tidak terlalu merdu, cobalah untuk ikut berdendang. Bila kebetulan kondisi sekitar sedang sepi, jangan ragu untuk bernyanyi nyaring. Anggap saja bahwa semua rasa kesal dan tekanan dalam jiwa, ikut terbawa oleh suara teriakan Anda.

Nah, cara yang mudah, bukan? Sangat gampang dilakukan untuk menghilangkan stres Anda, sekaligus murah meriah. Selamat mencoba. (art)

11.49 | Posted in , , | Read More »

Please share :

Apa Sih Cinta Sejati Itu?

Ilustrasi: Cinta sejati adalah saat bersamanya, Anda merasa tenang, nyaman dan terlindungi. Anda tak merasa khawatir akan hal apapun, dan merasa percaya diri. (Foto: Matchdamour)
Talinews.com - Dalam film, cinta sejatinya biasa digambarkan dengan pengorbanan seseorang untuk pasangannya. Misalnya saja dalam film Titanic, pengorbanan Jack Dawson agar Rose deWitt Bukater tetap hidup setelah kapal mewah itu tenggelam. Atau kisah cinta Romeo dan Juliet yang bunuh diri bersama untuk mengokohkan cinta di antara keduanya.

Tapi itu hanyalah kisah dalam film atau novel romantis. Lalu seperti pakah cinta sejati yang sebenarnya? Berikut Talinews paparkan soal cinta sejati.

Cinta sejati bila... Anda pernah marah padanya

Lho, pernah dibuat marah kok malah menunjukkan cinta sejati? Dalam sebuah hubungan, seseorang merasa saling memiliki satu sama lain. Dan adalah sifat manusia yang normal apabila kemudian dalam hubungan ada cemburu yang timbul dan terkadang sikap over possesive.

Justru lewat hal tersebut, Anda tahu benar bahwa ternyata Anda mencintai dan ingin selalu memilikinya.

Cinta sejati bila... pernah berdebat dan bertengkar


Masih berhubungan dengan poin pertama, cinta sejati itu ditunjukkan apabila Anda dan si dia pernah terlibat pertengkaran, entah kecil hingga besar. Artinya, Anda dan dia saling peduli satu sama lain, namun sempat berselisih paham saja.

Satu hal lagi, pemilik cinta sejati akan tahu kapan saat mengalah. Bahkan di dalam pertengkaran yang besar, salah satu pasangan selalu memulai ajakan damai dan keduanya berniat memperbaiki diri masing-masing.

Cinta sejati bila... Anda pernah dibuat menangis olehnya

Menangis itu tak selalu identik dengan cengeng. Tangisan adalah suara hati yang tak tersampaikan lewat kata-kata. Sebuah gejolak emosi yang mengalir tenang lewat air mata. Dan itu merupakan hal yang bagus dalam sebuah hubungan.

Sebuah hubungan pasti mengalami pasang surut. Sisi positifnya, Anda jadi tahu kekurangannya yang membuat Anda sampai menangis.

Cinta sejati bila... Anda nyaman di dekatnya

Hati kecil bisa merasakan dengan baik, jauh lebih baik dari kita yang matanya masih sering tertutup akan ketampanan fisik dan gelimang materi.

"If I know what love is, it is because of you - Herman Hesse"

Saat bersamanya, Anda merasa tenang, nyaman dan terlindungi. Anda tak merasa khawatir akan hal apapun, dan merasa percaya diri. Itulah cinta sejati, di mana belahan jiwa bertemu dan menjadi satu kembali.

Cinta sejati bila... Anda dan si dia kompak

Tak harus semua hal yang Anda suka sama dengan dia. Tetapi di beberapa hal, Anda dan dia bisa jadi sosok partner yang kompak. Saling melindungi satu sama lain, saling menyupport satu sama lain, saling menjaga satu sama lain, saling memperhatikan dan memahami.

Cinta sejati bila... bisa tampil apa adanya

Ia tahu semua kebiasaan buruk Anda, begitupun juga sebaliknya. Semua berjalan normal dan tak ada yang ditutup-tutupi. Begitulah saat cinta sejati bertemu, karena mereka sudah paham kedalaman hati masing-masing, dan tak ada yang perlu disembunyikan lagi.

Cinta sejati bila... ada kedekatan emosional

Saat berdekatan dan bersentuhan secara fisik dengannya, Anda merasa tidak canggung. Anda merasa nyaman dan aman. Itulah ketika cinta sejati bertemu. Dan rasanya ingin selalu menyentuh satu sama lain setiap waktu, seperti tak ingin terpisahkan.

Itulah mengapa dalam hubungan yang lebih serius dan jauh, aktivitas seks disebut juga hubungan intim, di mana pasangan mengikuti naluri dan gairahnya untuk selalu berdekatan dan bersentuhan. (R2N)

20.04 | Posted in , , | Read More »

Please share :

Waduh, Usia Orang Ambisius Lebih Pendek

Ilustrasi: Riset mengungkap mereka yang ambisius, berprestasi,  serta memiliki karier bergengsi, cenderung memiliki kesehatan yang lebih buruk dan harapan hidup lebih rendah. (Foto: Google)
Talinews.com - Punya sifat ambisius mencapai sesuatu tentunya baik dalam kehidupan. Tapi, apa jadinya bila sifat itu justru merugikan kesehatan, bahkan memperpendek umur? Hmmm…

Sebuah penelitian dari University of Notre Dame menunjukkan sisi lain di balik kecemerlangan karier seseorang, yang bisa jadi merugikan, ditilik dari sisi kesehatan. Riset mengungkap mereka yang ambisius, berprestasi,  serta memiliki karier bergengsi, cenderung memiliki kesehatan yang lebih buruk dan harapan hidup lebih rendah.

Profesor Timothy Judge dari University of Notre Dame menggunakan data dari studi siklus hidup Terman untuk menelusuri 717 individu berkemampuan tinggi. Ia melakukannya lebih dari tujuh dekade,  dengan mengukur cita-cita peserta dari masa kecil ke awal karier mereka.

Latar belakang pendidikan mereka berkisar dari menyelesaikan diploma sekolah menengah atas sampai memasuki beberapa universitas terbaik di dunia, seperti Harvard, Yale, Princeton, Stanford, Columbia, Cornell, Northwestern, Berkeley, dan Oxford.

Ambisi diprediksi oleh perbedaan individu, misalnya neurotisisme dan kemampuan mental umum, serta latar belakang sosial ekonomi seperti pekerjaan orangtua yang bergengsi.

Hasil riset menunjukkan, meski orang-orang ini memiliki segudang prestasi di sekolah maupun di tempat kerja dan memiliki gaji tinggi, mereka yang ambisius cenderung hidup lebih pendek dan tidak lebih bahagia ketimbang teman-teman mereka yang tidak terlalu mempunyai motivasi tinggi. Orang-orang yang berprestasi tinggi cenderung mengorbankan kualitas hidup mereka untuk kesuksesan.

Oleh sebab itu Judge menyarankan, orangtua harus tahu bahwa ambisi memiliki batasan-batasan. Jika keinginan terbesar Anda untuk anak-anak Anda adalah mereka menjalani kehidupan yang bahagia dan sehat, Anda mungkin tidak akan terlalu menekankan keberhasilan profesional kepada mereka, demikian seperti dilaporkan The Atlantic. (R2N)

19.51 | Posted in , | Read More »

Please share :

Tahukah Anda, Menonton Film Sedih Dapat Meningkatkan Kebahagiaan?

Ilustrasi: Google
Talinews.com, Amerika - Tahukah anda bahwa menonton film-film tragedi fiksi dapat meningkatkan kebahagiaan.? Para peneliti menemukan bahwa menonton film tragedi membuat orang selalu berpikir tentang hubungan dekat mereka dengan orang-orang yang mereka cintai. Menonton kisah sedih akan membuat orang lebih bahagia dengan memperhatikan beberapa aspek posistif dalam kehidupan mereka sendiri.

"Kisah tragis sering berfokus pada tema cinta yang abadi, dan ini menyebabkan penonton untuk senantiasa berpikir tentang orang yang mereka cintai dan mensyukuri setiap berkat mereka terima dalam kehidupan mereka," kata Silvia Knobloch-Westerwick, profesor komunikasi di Ohio State University.

Kuncinya adalah sejauh mana penonton berpikir tentang hubungan mereka sendiri dengan orang-orang terdekat mereka sebagai akibat dari menonton film. Semakin mereka berpikir tentang orang yang mereka cintai, semakin besar potensi peningkatan kebahagiaan mereka. Seadngkan penonton yang memiliki pikiran egois tentang film - seperti "Hidup saya tidak seburuk seperti karakter dalam film ini" - tidak akan melihat peningkatan kebahagiaan mereka.

Knobloch-Westerwick mengatakan bahwa studi ini adalah salah satu hal yang utama dalam mengambil pendekatan ilmiah untuk menjelaskan mengapa orang menikmati tragedi fiksi yang membuat mereka merasa sedih.

"Para filsuf telah mempertimbangkan pertanyaan ini selama ribuan tahun, tapi belum ada perhatian ilmiah yang dapat menjelaskan hal ini," katanya.

Knobloch-Westerwick melakukan penelitian bersama dengan Gong Yuan, seorang mahasiswa pascasarjana, Holly Hagner dan Laura Kerkeybian, keduanya juga adalah mahasiswa di Ohio State.

Dalam penelitian ini Knobloch-Westerwick dan timnya melibatkan 361 mahasiswa yang disuguhkan versi singkat film 2007 "Atonement", sebuah film yang bercerita tentang dua kekasih yang terpisah dan mati sebagai korban perang.

Sebelum dan setelah menonton film tersebut, para responden diberikan beberapa pertanyaan untuk mengukur seberapa bahagia mereka dengan kehidupan mereka saat ini. Sebelumnya mereka juga diminta untuk merasakan berbagai bentuk emosi, termasuk kesedihan, setelah melihat film tersebut sebanyak tiga kali.

Setelah menonton film tersebut, peserta dinilai seberapa banyak mereka dapat menikmati kisah yang baru saja mereka lihat dan menuliskan tentang bagaimana film telah memimpin mereka untuk merefleksikan diri mereka sendiri, tujuan hidup mereka, hubungan mereka dengan orang-orang terdekat dan kehidupan secara umum.

Knobloch-Westerwick mengatakan, "Apa yang ditulis orang tentang akibat menonton film adalah kunci dalam memahami mengapa orang menikmati dalam menonton tragedi fiksi."

"Orang yang mengalami peningkatan lebih besar dalam kesedihan saat menonton film lebih cenderung untuk menulis tentang orang-orang yang nyata dengan siapa mereka memiliki hubungan dekat", tambahnya.

Hal ini pada gilirannya akan meningkatkan kebahagiaan kehidupan mereka setelah melihat kisah tragedi fiksi yang diceritakan dalam sebuah film.

"Orang tampaknya menggunakan tragedi sebagai salah satu cara untuk mencerminkan  begitu pentingnya sebuah hubungan dalam hidup mereka sendiri, dan juga untuk mensyukuri setiap berkat yang telah dianugerahkan dalam kehidupan mereka," katanya.

"Itu bisa membantu menjelaskan mengapa kisah tragedi fiksi begitu populer, meskipun menimbulkan kesedihan pada setiap orang yang menontonnya."

Para peneliti juga telah menguji teori bahwa kemungkinan orang merasa lebih bahagia setelah melihat film tragedi karena membandingkan diri mereka dengan karakter yang digambarkan di dalam film tersebut dan mereka akan merasa lebih baik ketika kehidupan mereka ternyata tidak begitu buruk.

Orang yang egois dan hanya memikirkan diri mereka sendiri dan bukan tentang hubungan dekat mereka, tidak mengalami peningkatan kebahagiaan hidup.

"Tragedi tidak meningkatkan kebahagiaan hidup dengan membuat pemirsa berpikir lebih tentang diri mereka sendiri," katanya.

Tapi mengapa orang harus sedih dengan menonton tragedi untuk bersyukur tentang suatu hubungan dalam kehidupan mereka sendiri? Knobloch-Westerwick mengatakan hal ini sesuai dengan penelitian di bidang psikologi yang menunjukkan suasana hati negatif membuat orang lebih bijaksana.

"Emosi positif umumnya adalah sinyal bahwa semuanya baik, Anda tidak perlu khawatir, Anda tidak harus berpikir tentang masalah dalam hidup Anda," katanya.

"Akan tetapi emosi negatif, seperti kesedihan, membuat Anda berpikir lebih kritis tentang situasi Anda. Jadi melihat film tragis tentang kisah cinta mungkin membuat Anda sedih, tapi itu akan menyebabkan Anda untuk berpikir lebih tentang hubungan Anda sendiri, lebih dekat dan lebih menghargai mereka. "

Penelitian juga menunjukkan bahwa suatu hubungan umumnya adalah sumber utama kebahagiaan dalam hidup kita, sehingga tidak mengherankan bahwa berpikir tentang orang yang Anda cintai akan membuat Anda lebih bahagia, katanya.

"Tragedi mengingatkan kita tentang hubungan yang lebih erat, dan itulah yang membuat kita bahagia."

(ahs)

13.45 | Posted in , , , | Read More »

Please share :

Hidup Sendiri Cenderung Alami Depresi

Hidup dalam kesesendirian bisa meningkatan risiko depresi (Ilustrasi: Vancouversun.com)
Talinews.com – Risiko depresi bisa dialami oleh setiap orang, tergantung pada permasalahan yang dialaminya. Namun, berdasarkan penelitian, risiko depresi cenderung akan dialami oleh orang-orang yang hidup sendirian.

Penelitian ini dilakukan oleh Laura Pulkki-Raback, seorang peneliti psikologi kesehatan kerja di Institut Finlandia. Ia meneliti 3.500 orang Finlandia yang sudah berkerja, dengan waktu penelitian yang dihabiskan selama tujuh tahun.

Hasil penelitian Laura menunjukkan bahwa 80 persen pekerja yang ditelitinya hidup sendiri dan pembeli obat anti depresi, untuk mengatasi permasalahan hidup yang dialami. Obat tersebut dijadikan sebagai pelarian bagi mereka, untuk dapat merasa tenang dan sejenak melupakan permasalahan yang mereka hadapi.

Laura mengatakan, beberapa pekerja yang ditelitinya mengungkapkan bahwa depresi yang diderita disebabkan oleh perasaan keterasingan dari lingkungan sosialnya, dan kurangnya kepercayaan mereka terhadap orang lain.

Bila dikaitkan dengan jenis kelamin, risiko paling besar mengalami depresi terjadi pada kaum wanita. Menurut Laura, hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor. Antara lain kurangnya hubungan antar sesama dalam kehidupan sosial, tingkat pendidikan yang rendah, dan penghasilan yang tidak mencukupi kebutuhan hidupnya.

"Kaum pria yang hidup sendiri biasanya disebabkan oleh kurangnya dukungan sosial. Namun, mereka biasanya akan mencari sesuatu sebagai pelarian. Seperti mengkonsumsi minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang," terang Laura.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal BMC Public Health itu mencatat adanya peningkatan jumlah orang yang hidup sendiri. Berdasarkan data statistik Kanada, sebanyak 26,8 persen penduduknya hidup sendiri pada tahun 2006. Jumlah tersebut meningkat 6% dari tahun 1941.

Menurut seorang psikolog, Dr Scott Patten, data statistik Kanada pada 2002 memperkirakan sekitar 12 persen warga mengalami depresi klinis. Kelompok paling tinggi yang berisiko adalah mereka yang mengalami perceraian.

"Kelompok orang yang menikah memiliki kemungkinan yang rendah mengalami depresi. Sedangkan kelompok orang yang masih lajang, memiliki tingkat menengah dalam prevalensi risiko depresi," ujar Patten yang juga seorang pengajar di University of Calgary. (art)

11.04 | Posted in , , | Read More »

Please share :

Kekuatan Rahasia Orang Introvert

Ilustrasi (Forbes)
Talinews.com, Amerika – Istilah introvert (tertutup) dan ekstrovert (terbuka) pertama kali dipopulerkan oleh seorang pakar psikologi bernama Carl Jung, pada tahun 1920. Istilah ini dikembangkan oleh Myers-Briggs dalam tes kepribadian, yang sering digunakan dalam tes masuk universitas dan perusahaan besar.

Kebanyakan orang berpandangan bahwa menjadi individu yang introvert (tertutup) akan merugikan diri pribadi dan membatasi interaksi dengan lingkungan sekitar. Namun, pada kenyataannya, banyak tokoh pemimpin dunia yang berpengaruh, merupakan orang-orang yang introvert. Seperti Charles Darwin, Mahatma Gandhi, Albert Einstein, Al Gore, dan J.K Rowling.

Ternyata, menjadi orang yang introvert tidak selamanya merugikan. Seperti yang diungkapkan oleh Susan Cain, penulis Amerika, dalam bukunya berjudul 'Quite : The Power of Introvert in a World That Can't Stop Talking'. Kekuatan orang introvert akan tampak saat menjadi seorang pemimpin.

Menurut studi yang ia tuang dalam buku itu, orang introvert lebih baik dalam memimpin karyawan. Karena, mereka lebih proaktif, mau mendengarkan, dan membiarkan para karyawan untuk mengeluarkan ide-ide cemerlangnya.
"Contohnya mantan CEO Mozzila, John Lily. Dia hanya berjalan diam di aula dan melakukan kontak mata dengan orang yang berpapasan dengannya, tanpa menyapa sedikitpun sekadar berbasa-basi. Ia tidak menyadari berapa banyak orang yang tersinggung akibat sikapnya itu. Pemimpin introvert hanya perlu untuk sedikit lebih sosial," ujar Cain seperti dikutip dari Forbes.
Ia menjelaskan, sebelum abad kedua puluh, masyarakat pada umumnya hidup dalam apa yang disebut sejarawan sebagai 'karakter budaya', ketika setiap orang mengharapkan dapat melakukan integritas diri dengan moral yang tenang. Namun, ketika orang-orang mulai menuju kota dan melakukan pekerjaan berbisnis, timbul banyak pertanyaan dalam diri setiap orang. Bagaimana caranya untuk menjadi menonjol di tengah orang banyak?. Akibatnya, muncul 'kepribadian budaya', dimana setiap orang ingin tampil berkilau seperti seorang bintang film dan berusaha tampil bagaikan karyawan yang ceria.

Meski begitu, Cain tidak menampik peran besar orang ekstrovert. Menurutnya, orang-orang ekstrovert lebih tegas secara vokal, dan berusaha tampil sebagai sosok yang harus didengar. Bila berlebihan, sikap kepemimpinan orang ekstrovert bisa menjadi malapetaka dalam suatu perusahaan.
"Ide dan kepemimpinan yang besar bisa muncul dari dua jenis kepribadian ini. Tapi, harus ada keseimbangan yang lebih baik dan inklusi gaya kerja yang berbeda. Introvert hidup di bawah ideal ekstrovert, seperti perempuan yang hidup di dunia pria," tuturnya.  
(art)

00.32 | Posted in , , , | Read More »

Please share :