Tahukah Anda, Perasaan Positif Dapat Mungurangi Resiko Penyakit Jantung?
Talinews.com, Amerika Serikat - Tidak dapat dipungkiri bahwa masalah kesehatan tidak melulu dipengaruhi oleh faktor eksternal. Itulah mengapa tokoh Buddist, Dalai Lama, pernah berkata bahwa faktor internal seperti "pikiran" manusia juga dapat menjadi sumber segala penyakit. Dalam pengertian sederhana, bahwa setiap orang seharusnya mampu untuk mengendalikan pikiran mereka, mengarahkan dan mengembangkannya pada pikiran-pikiran positif. Hal ini bertujuan agar kita terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan yang dapat juga mengancam masalah kesehatan psikologis.
![]() |
| Ilustrasi: Para ilmuwan menemukan bahwa keadaan psikologis positif yang muncul dapat mengurangi risiko serangan jantung, stroke dan ancaman kardiovaskular lainnya. (Foto: Google) |
Tidak mengherankan jika dalam kehidupan masyarakat modern saat ini banyak orang yang secara serius menggeluti latihan spiritual sekuler, seperti mengikuti pelatihan meditasi, yoga dan lain-lain. Dengan berlatih meditasi dan yoga, mereka berharap dapat merasakan manfaat positif dalam usaha mengendalikan pikiran dan menciptakan perasaan-perasaan posisitf dalam kehidupan sehari-hari.
Perlu diketahui bahwa beberapa dekade terakhir banyak penelitian yang telah dilakukan dalam menyelidiki keterkaitan antara keadaan psikologis seseorang yang dapat mengakibatkan ancaman terhadap kesehatan dirinya. Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perasaan negatif seperti depresi, kemarahan, kecemasan, kebencian atau rasa permusuhan, ternyata dapat menjadi ancaman bagi kesehatan jantung.
Sedikit sekali diketahui bagaimana karakteristik psikologis positif dapat mempengaruhi kesehatan jantung. Namun baru-baru ini peneliti di Havard School of Public Health (HSPH) menemukan bahwa keadaan psikologis yang positif mampu mengurangi resiko serangan jantung, stroke atau ancaman kardiovaskular lainnya.
Asosiasi Jantung Amerika (AHA) melaporkan lebih dari 2.200 orang Amerika meninggal akibat penyakit kardiovaskular (CVD) setiap harinya, rata-rata satu kematian setiap 39 detik dan penyakit stroke menyumbang sekitar satu dari setiap 18 kematian AS.
"Kami menemukan bahwa faktor-faktor seperti optimisme, kepuasan hidup, dan kebahagiaan sangat berhubungan dengan penurunan risiko CVD terlepas dari faktor-faktor seperti usia seseorang, status sosial ekonomi, perokok atau bukan, bahkan berat badan, ", demikian kata Julia Boehm, peneliti HSPH di Department of Society, Human Development, and Health. "Sebagai contoh, individu-individu yang paling optimis memiliki resiko berkurangnya resiko CDV sekitar 50% dibandingkan dengan rekan-rekan mereka kurang optimis," katanya.
Dalam review lebih dari 200 penelitian yang diterbitkan dalam dua database ilmiah utama, Boehm dan penulis senior Laura Kubzansky, Professor of Society, Human Development, and health di HSPH, ditemukan bahwa ada aset psikologis, seperti optimisme dan emosi positif, yang mampu memberi perlindungan terhadap penyakit kardiovaskular. Juga tampak bahwa faktor-faktor ini memperlambat perkembangan penyakit.
Untuk lebih memahami keterkaitan antara keadaan psikologis yang baik dan dan pengaruhnya terhadap ancaman CVD, Boehm dan Kubzansky juga meneliti hubungan perilaku hidup sehat dengan kesehatan kardiovaskular dan indikator biologis. Mereka menemukan bahwa individu dengan perasaan positif biasanya menjalani perilaku hidup sehat seperti berolahraga, makan makanan terartur dan seimbang, dan tidur cukup. Hal ini akan menciptakan manfaat postif lainnya seperti fungsi biologis yang lebih baik, misalnya dapat menurunkan tekanan darah, lipid yang sehat, dan menjadikan berat tubuh normal.
Jika penelitian dimasa yang akan datang terus menunjukkan bahwa tingkat kepuasan, optimisme dan kebahagiaan dapat mempengaruhi kesehatan jantung, maka ini memiliki implikasi yang kuat untuk merancang strategi pencegahan dan intervensi.
"Temuan ini menunjukkan bahwa penekanan pada memperkuat kesehatan psikologis seseorang bukan hanya mengurangi keadaan psikologis yang negatif, namun dapat pula meningkatkan kesehatan jantung," kata Kuzbansky. (ahs)
